Sunday, April 8, 2012

ALANGKAH BAIKNYA BUMIAYU JADI KABUPATEN

Bumiayu adalah salah satu kecamatan di kabupaten Brebes, merupakan pusat aktivitas masyarakat di bagian Brebes selatan.

NAH PERTANYAAN SAYA APAKAH BUMI AYU LAYAK MENJADI KABUPATEN SENDIRI ??.

Ciri khas kota kecil ini diantaranya adalah adanya pasar Wage, yaitu pasar yang hanya buka setiap lima hari sekali menurut hari pasaran Jawa.
Bumiayu sangat terkenal di mata para pemudik karena macetnya, tetapi sekarang sudah ada jalan lingkar luar mulai dari desa Talok samapi keluar di desa Pagojengan kecamatan Paguyangan. Pusat dari aktivitas masyarakat yang berada di wilayah Tonjong, Bumiayu, Sirampog, Bantarkawung, Salem, dan Paguyangan.

 

Desa/kelurahan


Pariwisata

Beberapa tampat wisata di Bumiayu diantaranya:
1. Telaga Ranjeng dan Goa Jepang di Kaligua,
































2. Pemandian air panas Paku Jati dan Pemandian air panas Buaran,

3. Waduk Penjalin di Patuguran















4. Curug Putri di Sirampog.

 

 

 

 

  

 





5.DLL.

   

 

Pendidikan

Bagi wilayah Kabupaten Brebes bagian selatan, Bumiayu merupakan pusat pendidikan. Ditingkat SLTA, terdapat SMAN 1 Bumiayu, SMA BU NU, SMA Islam T. Huda, SMA Muhammadiyah, SMK Muhammadiyah, SMK Kerabat kita, SMA An-Nurriyah, dan SMAN 1 Paguyangan , SMK Al-Hikmah, SMK Al-Huda, MA Al-Hikmah 2, dan tingkat SMP seperti SMPN 1, SMPN 2, SMPN 3. SMP muhamadiyah, SMP Kerabat, SMP Islam, SMP An Nuriyah dan beberapa SMP Swasta.
Bumiayu juga terdapat sejumlah pondok pesantren seperti Pondok Pesantren An-Nurriyah dan Pondok Pesantren Shofwatussu’ada di Krajan, Bumiayu.Pondok pesantren Darunnajah Tegal Munding Pruwatan dan masih banyak lagi.

Wacana pembentukan Kabupaten Bumiayu

Saat ini tengah berkembang wacana pembentukan Kabupaten Bumiayu, lepas dari Kabupaten Brebes. Secara geografis, kawasan selatan Kabupaten Brebes cukup jauh dari ibukota kabupaten. Secara kultural pun, dialek Bumiayu cukup berbeda dengan dialek Tegal yang dituturkan di bagian utara Kabupaten Brebes. Bahkan sebagian masyarakat asli menganggap dirinya kelahiran “Bumiayu” ketimbang “Kabupaten Brebes”.

Lain-lain

Pada waktu zaman revolusi tahun 1950-an, Bumiayu dikenal sebagai pusat/markas TNI-AD untuk menumpas pemberontakan DI/TII yang ada di daerah Kecamatan Salem.
Tokoh terkenal dari wilayah ini ialah Yahya A. Muhaimin (mantan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia).Sebetulnya masih banyak tokoh-tokoh lain yang banyak berkiprah ditingkat nasional baik sipil maupun militer, namun sayang tidak terdokumentasikan. Tokoh Yahya Muhaimin lebih tepat sebagai mantan menterinya Gus-Dur yang lahir di Bumiayu. Suatu saat Bumiayu akan layak menjadi Kabupaten sendiri, hasil pemekaran dari Kabupaten Brebes, ini bisa terjadi bila pertumbuhan ekonomi mengalami kenaikan, terlebih dengan sedang dirintisnya perguruan tinggi (STKIP dan STIE) di Bumiayu, yang kelak akan menjadi Universitas.

Dialek Bumiayu atau Bahasa Bumiayu, adalah dialek Bahasa Jawa yang dituturkan di daerah Bumiayu (Kabupaten Brebes) dan sekitarnya. Dialek ini sebenarnya tidak berbeda jauh dengan Dialek Banyumas dan Dialek Tegal, kosakata dan cara pengucapannya juga mirip. Hal yang membedakan dialek Bumiayu dengan banyumas hanya pada intonasi dan pemilihan kata.
Ada sebagian kata yang umum dipakai oleh orang Banyumas tetapi tidak digunakan oleh orang Bumiayu. misalnya kata masuk, kata yang biasa dipakai oleh orang Banyumas adalah mlebu tetapi orang Bumiayu memakai kata manjing, kedua kata tersebut sama-sama bahasa Jawa dan memiliki arti yang sama yaitu masuk kedalam ruangan.
Jika diteliti lebih jauh, bahasa Bumiayu banyak dipengaruhi oleh bahasa Sansekerta. Dalam tradisi budaya Jawa, bahasa Sansekerta berada di atas Krama Hinggil, bahasa Jawa yang dianggap paling halus. Kata “manjing”, misalnya, sering dipakai oleh para dalang dalam cerita perwayangan. Kata “manjing” digunakan secara khusus untuk menggambarkan ruh yang masuk ke dalam diri sang Arjuna. Tapi di Bumiayu, kata tersebut digunakan untuk sembarang kalimat yang berkonotasi “masuk”. “Ayame manjing umah”, misalnya, berarti “ayamnya masuk rumah.”
Dialek Bumiayu juga sering menambahkan akhiran ra (diucapkan rha), belih untuk mengakhiri kalimat, hal ini mungkin untuk menegaskan maksud dari kalimat tersebut. Misal:
  • Ana apa, ra? –> Ada apa ?
  • Rikané masa ora ngerti, ra ? –> Kamu masa ngga ngerti ?
  • Wis mangan, belih ? –> Sudah makan belum ?
  • Pan maring ngendi ? –> mau pergi kemana ?
Dialek ini diucapkan oleh masyarakat dari Kecamatan BumiayuBuaran-Bumiayu Paguyangan, Sirampog, dan Tonjong (Kabupaten Brebes).

No comments:

Post a Comment